Kamis, 27 Oktober 2011

kisah azis

Layar Spesial "Kisah Nyata Azis Gagap"
  
ImageTayang : Kamis, 20 Oktober 2011, pukul 08.00 WIB
Sebuah keramaian di sebuah rumah warga,  AZIZ bersama BAGUS, teman kerjanya yang awalnya hendak membetulkan instalasi listrik malah membuat "panggung dadakan" dan menghibur warga di komplek itu. Guyonan-guyonan Aziz sangat lucu dan membuat warga tertawa terpingkal-pingkal.
 
Tiba-tiba di saat itu ledakan kecil terjadi di rumah salah satu warga yang tadi diperbaiki Aziz, aliran listrik terputus dan menimbulkan nyala api kecil. Aziz panik "busyet gue lupa kabelnya tadi belum kebungkus". Dengan segera Aziz dan Bagus berusaha memadamkan api itu, "busshh" begitu Aziz dan Bagus mendekat saklar ternyata saklar itu meledak sehingga wajah Aziz dan Bagus gosong. Seluruh warga kembali tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan ulah Aziz.

Akibat kejadian tadi pagi itu Aziz dikeluarkan dari kantornya, malam harinya Aziz pun  ditegur oleh kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya Aziz menasehati Aziz agar Aziz kerja yang benar, lupakan mimpi-mimpi dunia panggung dan menjadi pelawak yang selama ini Aziz inginkan. Orang tua Aziz menyayangkan Aziz yang dalam sebulan bisa pindah kerjaan sampai tiga kali dan itu semua karena Aziz gak fokus menjalani pekerjaannya, Aziz selalu mementingkan dunia panggung lawak dari pada apapun juga. Orang tua Aziz tidak mau Aziz yang sudah gagal sekolah meski orang tuanya sebenarnya mampu bayar uang sekolah dan sekarang harus gagal lagi di pekerjaan hanya karena dunia panggung lawak. Seperti biasa setelah dinasehati panjang lebar oleh ayah dan ibunya maka Aziz hanya menunduk tak berani membantah satu kata pun, Aziz sadar orang tuanya benar namun Aziz sudah terlanjur cinta dengan lawaknya.

Hidup terus berlanjut, Aziz atas ajakan temannya mendapat kerjaan baru sebagai tukang gali sumur, pekerjaan Aziz memang berat dan uangnya gak banyak namun Aziz selalu bersyukur pada Allah atas apa yang didapatnya. Di sela-sela waktu apabila job kerjaan gali sumur belum ada maka Aziz terus melawak, kala itu Aziz bergabung bersama grup lawak "SPORTIF". Suka duka dijalani Aziz bersama grup lawak "SPORTIF" mulai dari manggung yang hanya dibayar nasi bungkus, manggung sukses hingga suatu hari Sportif mendapat tawaran manggung hajatan ulang tahun anak Lurah di Bogor, kala itu Aziz dan teman-teman sukses membuat satu kampung terpingkal-pingkal tertawa dan setelah manggung Aziz dan teman-teman dijamu makan oleh Pak Lurah. Pak Lurah yang senang pada Aziz hendak menjodohkan Aziz dengan anaknya yang berulang tahun.
 
Awalnya Aziz senang banget karena saat manggung tadi dia sempat melihat Pak Lurah bersama seorang gadis cantik dan "ibunya". Aziz setuju banget dengan niat Pak Lurah namun malangnya ternyata gadis cantik yang dilihat Aziz tadi bukanlah anak Pak Lurah malahan yang diduga "ibunya" (IRAM)  tadi adalah anaknya Pak Lurah. Ternyata anaknya Pak Lurah adalah perawan tua, gendut yang bernama Iram. Pak Lurah pun tersinggung Aziz menolak anaknya. Akhirnya Aziz bersama teman-teman satu grupnya dikejar-kejar oleh Pak Lurah, Iram dan anak buah Pak Lurah. Kejar-kejaran keliling kampong yang kocak namun menegangkan pun terjadi hingga Aziz pun akhirnya terdesak. Untungnya di saat itu Aziz diselamatkan oleh NURHASANAH, gadis cantik yang tadi dilihat Aziz. Nurhasanah menyelamatkan Aziz dengan meminjamkan Aziz kerudung dan pakaian muslimah, dengan menyamar menjadi perempuan akhirnya Aziz selamat dari kejadian kejar-kejaran konyol itu.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, kejadian itu membuat Aziz menjadi dekat dengan Nurhasanah, Aziz mencintai Nurhasanah dan Nurhasanah juga mencintai Aziz namun hubungan percintaan mereka berdua tidaklah mudah karena pada saat itu ternyata Nurhasanah sudah dijodohkan keluarganya dengan HERMAN, seorang pemuda desa yang ganteng dan punya toko beras. Herman yang sukses selalu dibanding-bandingkan dengan Aziz yang pekerjaan dan masa depannya yang belum jelas. Meski Aziz sadar kalau dia bukan orang kaya namun Aziz tidak putus asa untuk mendapatkan Nurhasanah. Aziz jujur pada Nurhasanah kalau dia bercita-cita menjadi pelawak sukses karena sangat mencintai dunia panggung lawak namun dia tetap berusaha mencari rezeki di bidang lain sebelum cita-citanya terwujud.

Setiap malam minggu Aziz tak lupa mendatangi Nurhasanah (apel) dan setiap itu juga Aziz berusaha mengambil hati calon mertua dengan membawa oleh-oleh pisang dan juga buah salak. Demi mendapatkan perhatian dari calon mertua Aziz selalu mengaku kalau job lawaknya banyak namun meski demikian keluarga Nurhasanah tidak terlalu perduli pada Aziz, mereka setengah hati menerima kedatangan Aziz dan hal itu membuat hati Aziz sedih namun Aziz ikhlas dan yakin jikalau Nurhasanah jodohnya maka Allah akan memberi jalan padanya. Pada saat pulang dari rumah Nurhasanah Aziz dihadang oleh Herman, Herman badannya besar, dia menantang Aziz berkelahi, Aziz sudah berusaha menghindari perkelahian itu namun karena Herman memukul Aziz duluan maka Aziz pun melawan, Aziz yang pernah belajar silat cimande berhasil menjatuhkan Herman.

Herman bukanlah laki-laki yang gentle, dengan kelicikannya Herman memfitnah Aziz, pada suatu saat saat Aziz datang mengunjungi Nurhasanah, Herman dan teman-temannya telah mengatur siasat licik menjebak Aziz dengan memfitnah dan berteriak-teriak kalau Aziz sudah melakukan pencurian di kampung mereka, Aziz pun dikejar-kejar warga di kampung itu, sungguh sangat sedih Aziz sempat dipukuli oleh warga. Meski semua orang memfitnah Aziz namun Nurhasanah tidak percaya, Nurhasanah sangat yakin akan akhlak Aziz yang baik, Nurhasanah melindungi Aziz dari warga yang emosi. Aziz sama sekali tidak melawan, Aziz saat itu hanya mengucap nama Allah dan berdoa pada Allah. Akhirnya kebenaran pun berbicara, salah seorang yang awalnya ikut menjebak Aziz menjadi kasihan melihat Aziz yang tidak bersalah, orang itu mengaku kalau itu semua adalah akal bulus Herman.

Meski sudah difitnah dengan sangat keji dan juga didzolimi sampai babak belur namun Aziz sama sekali tidak menaruh dendam pada Herman dan juga orang-orang yang sudah memukulinya. Aziz memaafkan mereka semua, Aziz tidak mau memperpanjang kejadian itu sampai ke polisi karena Aziz tidak mau keluarga mereka ikut susah nantinya, Aziz pun sudah memaafkan mereka. Kebesaran hati Aziz membuat Nurhasanah semakin mencintai Aziz dan keluarga Nurhasanah yang tadinya cuek pada Aziz menjadi kagum dan sayang pada Aziz. Herman dan semua warga desa menjadi kagum pada Aziz, mereka sangat salut pada kebesaran hati Aziz. Akhirnya hubungan percintaan Aziz dan Nurhasanah dengan izin Allah dan juga restu semua orang berlanjut ke pernikahan. Sebuah pesta kecil pun diselenggarakan, di panggung kecil Aziz bersama dengan Sportif Grup melawak menghibur keluarga dan semua orang, di hari pernikahannya Aziz membuat semua orang terhibur dan bahagia.

Waktu pun berlalu cepat, Aziz dan Nurhasanah sudah bertahun-tahun menikah dan sekarang mereka sudah dianugrahi tiga orang anak, AHMAD FAHRIZAL, MAULIDA AZIZ dan ARYA PURNAMA. Keadaan ekonomi mereka memang susah/miskin namun Aziz tetap bertanggung jawab pada keluarganya. Segala macam pekerjaan dijalani Azis dari bekerja di pom bensin, menjadi tukang ojeg, jualan sayur di pasar hingga menjadi kuli. Semua pekerjaan itu dijalani Aziz namun cita-cita dan mimpi Aziz sama sekali tidak dia lupakan, setiap malam selepas bekerja serabutan Aziz berkumpul dengan teman-temannya meningkatkan kemampuan mereka melawak, berdiskusi dan mencari-cari kesempatan di dunia lawak Indonesia.
 
Batu ujian dalam hidup Aziz sungguh berat didaki, suatu ketika Aziz bersama temannya berjuang untuk bisa melawak di TVRI, susah payah mereka meyakinkan orang TVRI kalau mereka layak diberi kesempatan hingga akhirnya suatu hari Aziz dan teman-teman dipercaya untuk manggung di TVRI untuk sepuluh menit dalam sebuah acara, istri dan anak-anak Aziz saat itu sudah sangat bangga karena Aziz akan masuk TV namun akhirnya karena ada seorang pelawak saingan Aziz yang jahat maka Aziz gagal masuk TV, orang itu menjelek-jelekan Aziz sehingga Aziz pun tidak bisa ke TV itu lagi.

Aziz sebenarnya sudah mati-matian berjuang bekerja mencari nafkah dengan menjadi kuli bangunan namun hasilnya tidaklah besar sehingga dia dan keluarga harus sabar menjalani kesusahan ini. Karena kehidupan ekonomi yang susah istri dan anak-anak Aziz sering mendapat cibiran dan juga hinaan dari para tetangga yang jahat, di sekolah anaknya Aziz harus menahan malu karena teman-teman mereka yang sering meledek sepatu,  baju dan tas sekolah yang sudah sobek tak layak namun tetap dipakai. Hingga akhirnya pada suatu hari ketiga anaknya Aziz diusir dari sekolah karena mereka sudah tiga bulan gak bayar uang sekolah. Dengan menangis terseduh-seduh mereka pulang ke rumah. Sungguh perih hati Aziz melihat kesedihan anak-anaknya namun Aziz sadar Allah tidak akan menguji manusia di luar kesanggupan manusia.

Pada suatu ketika saat Aziz sedang bekerja menjadi kenek bus, salah seorang tetangga Aziz mengabarkan kalau anaknya Aziz di rumah sakit, Aziz pun langsung berlari pulang dan benar saja ternyata si bungsu suhu badannya sangat panas bahkan sampai menggigil, dalam keadaan panik Aziz segera menggendong anaknya berlari menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit ternyata pihak rumah sakit tidak mau menerima dan merawat anaknya Aziz karena Aziz tidak sanggup membayar uang muka perawatan, Aziz dan istrinya menangis memohon agar pihak rumah sakit mau menolong mereka untuk merawat anaknya dulu, Aziz berjanji bahkan bersumpah kalau dia pasti akan membayar. Tangisan Aziz dan Nurhasanah tidak bisa merubah peraturan keji itu, akhirnya dalam keadaan pilu itu Aziz menitip si bungsu pada ibunya karena dia akan pergi mencari pinjaman uang. Di bawah guyuran air hujan yang sangat deras dan halilintar bersaut-sautan Aziz mendatangi suatu tempat ke tempat lainnya namun tidak ada satu orangpun yang mau menolong Aziz, bahkan ada juga yang sempat-sempatnya menghina Aziz, "Kenapa gak lo bayar pake lawak aja tuh rumah sakit?". Dalam keputusasaan Aziz sembahyang dan berdoa di mesjid rumah sakit. Aziz memohon dan menangis pada Allah memohon bantuan Allah. Setelah Aziz sembahyang Aziz dengan pasrah kembali mendatangi istri dan anaknya, ternyata si bungsu sudah dirawat dan kondisinya sudah mulai baik. Ternyata kakaknya Nurhasanah tergerak hatinya dan membayar semua biaya rumah sakit itu.

Kesabaran dan perjuangan Aziz perlahan akhirnya mulai berbuah, suatu ketika Aziz mendapat tawaran manggung bersama grup Bagito dan dari penulis skenario Grup Bagito itulah pertama kalinya Aziz mendapat peran sebagai orang gagap. Awalnya  Aziz sempat gugup dan gak yakin namun pada saat di panggung ternyata peran gagap itu melekat pada Aziz, semua orang tertawa dan terhibur. Selepas manggung Aziz memutuskan menggunakan karakter gagap dan bahkan menambah namanya menjadi Aziz gagap untuk berkarir di dunia panggung lawak. Perjalanan Aziz perlahan namun pasti menuju perbaikan, lepas dari Bagito Aziz mendapat tawaran bergabung dengan team grup lawak PATRIO (Parto, Akri dan Eko). Di sanalah Aziz sudah mulai sering muncul di TV dan pekerjaan-pekerjaan lainnya mulai berdatangan. Hingga akhirnya Aziz Gagap mendapatkan sebuah tawaran untuk mengisi acara lawak di TV yang benar-benar mengangkat dirinya sebagai peran inti bersama tiga orang pelawak lainnya, Acara itu ternyata sukses dan Aziz Gagap menjadi terkenal, seiring itu kondisi keuangan Aziz gagap menjadi sangat berkecukupan sekarang. Aziz Gagap yang sekarang kaya tidak pernah lupa diri, Aziz sangat sosial membantu orang lain dan diam-diam ternyata dia membeli dan membangun sebuah yayasan pendidikan untuk orang-orang yang tidak mampu agar bisa sekolah gratis.

Waktu dan keadaan memang sudah berubah, Aziz Gagap sudah menjadi terkenal dan kaya raya namun Aziz tetaplah Aziz, seorang laki-laki bertanggung jawab, mulia hatinya, inspirasi untuk semua dan yang paling penting AZIZ GAGAP seorang yang sangat mencintai DUNIA PANGGUNG LAWAK miliknya.vvv

Tidak ada komentar:

Posting Komentar